PGSD UNIKA ATMA JAYA TERAKREDITASI "B" OLEH BAN-PT
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Mendapat 3 SKP dari menulis ke Media Cetak

Satuan Kredit Partisipasi atau yang biasa disingkat SKP merupakan salah satu syarat untuk bisa lulus dari Atma Jaya. Minimal mahasiswa harus bisa mengumpulkan 15 SKP untuk memenuhi persyaratan kelulusan. Yup, biasanya SKP ini langsung dicari-cari oleh mahasiswa baru. Apalagi untuk SKP ilmiah yang lebih sulit dicari, biasanya seminar-seminar langsung diikuti supaya bisa mendapat SKP ilmiah. Ya itu strategi yang cukup bagus. Selagi masih semester awal, mengumpulkan SKP ilmiah. Namun bagaimana jika hingga menjelang semester akhir SKP ilmiah belum mencapai 4,5 ? Disatu sisi, mungkin sudah tidak sempat lagi ikut seminar karena kesibukan di semester-semester akhir. Apalagi jika ikut seminar hanya mendapat 1 SKP.

Sebenarnya terdapat cara lain dan bahkan bisa langsung mendapat 3 SKP ilmiah. Caranya adalah dengan mengirim tulisan ke media cetak. Media cetak bisa berupa koran, tabloid, dan majalah. Jika tulisan yang kita kirim ke media cetak dimuat, maka kita bisa mendapat 3 SKP. Hal tersebut sesuai dengan yang ada pada buku pedoman SKP. Disitu tertulis mengirim tulisan ke koran/tabloid nasional, poin SKPnya 3.Saya juga sudah pernah mengajukannya ke PA dan itu disetujui. Jadi jika kamu suka menulis, bisa dicoba itu.

Tulisan yang biasa diterima media cetak biasanya cerpen, resensi buku, dan opini. Hampir setiap koran menyediakan ketiga rubrik tersebut. Namun untuk opini biasanya diisi oleh para kalangan intelektual seperti dosen, ahli, peneliti, pejabat pemerintah, dll.

Untuk mahasiswa, Ada beberapa koran yang menyediakan rubrik khusus untuk menampung kiriman tulisan opini dari mahasiswa yaitu Kompas, Sindo, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, dan Pikiran Rakyat. Untuk kompas dan Sindo, terdapat tema opini disetiap periodenya. Mahasiswa memberikan opini terhadap tema yang diberikan tersebut.

Rubrik Argumentasi Kompas Kampus


Rubrik Poros Mahsiswa Koran Sindo

Memang tidak semudah itu tulisan kita bisa dimuat di media cetak. Perlu usaha berkali-kali mengirim tulisan hingga akhirnya dimuat. Namun, berdasarkan pengalaman, terdapat beberapa media yang cukup mudah ditembus yaitu harian BOLA, Tabloid BOLA, dan Tabloid SOCCER. Tulisan untuk ketiga media tersebut berupa opini tentang sepakbola.

Tulisan biasanya dikirim lewat email. Berikut ini email beberapa media cetak:
Harian Bola: harian@bolanews.com (rubrik forum pembaca)
Tabloid Bola: mingguan@bolanews.com (rubrik suara tifosi)
Tabloid Soccer: soccer@gramedia-majalah.com (rubrik surat pembaca)
Kompas: redaksikompaskampus@gmail.com (rubrik argumentasi, halaman kompas kampus setiap selasa)
Sindo: poros.mahasiswa.sindo@gmail.com (rurbirk poros mahasiswa)
Pikiran Rakyat: kampus_pr@yahoo.com (rubrik mimbar akademik, tema bebas, terbit kamis)

Untuk lebih lengkap mengenai rubriknya silakan melihat/membaca langsung pada media cetak tersebut.

Raimundus Brian P
2010-035-021


More..
07 Februari 2014 0 comments

3 Reasons Why You Should Have a High Awareness about Education


So many people nowadays are having a so-called career fears, which they are often thinking about, what-am-I-gonna-do-to-be-a-successful-person thing. They do believe that the more difficult (or expensive) the subject is, the more successful they become. It's practically makes every parents rely their responsibility to the teacher.

Here I mention why you should have a high awareness about education, as you are going to be a teacher.

1) People's perception about being a teacher is somewhat humiliating.
Of course you often heard about it, right? Small salary, lowly job, etc. Maybe you feel like wanna push down all the people who said that to the cliff nearby, but then you realize, it's not about the job who is wrong, but it's about perception.
What should we do?
Prove that their perception is wrong. Be a professional teacher. Keep in your mind that being a teacher is such a fun job, sure you will be forever young around the children everyday! You also need to have a high responsibility to your students, so they would respect you more and everything's going well. Believe me, once you are happy with your job, sure you don't even care about people's perception because you do have your own prove about it. And after you proved it, you can slowly change their perception. You just need to be work a little harder to finally have a good result.

2) Students are more likely to underestimate the importance of going to school.
We are absolutely knowing it and, at least once in a lifetime, ever felt it. Study hard for everyday without even knowing what's it all about, struggling with math, practicing subject you don't like, be in a class with a boring teacher, etc. It makes student hate the fact that they should go to school because they don't even know the purpose itself on the first place.
What should we do?
Make an enjoyable learning environment, design your own classroom with your children, let them decide what they want. And, of course you need to teach with various methods, don't ever force student to understand if they don't, it is important to know the capability of your students. Once they're feeling comfort in it, eventually, they will be happy to go to school without pressure and understand about the importance of going to school as they develop more and more in school.

3) There are so many unfortunate kids wishing a better education for themselves.
It is so sad that in fact there are a lot of poor children who cannot go to school because their parents cannot pay for its tuition. Or, maybe you often saw children are striving to go to school by walking miles away only just to get educated in school. That was just a picture of an inequity of education, we can't just be quiet here, so..
What should we do?
Be a volunteer! Teaching can't be done in school only, you can go anywhere and find many unfortunate children. Not only teach about specific subject in school, but try to find something the kids want to study. They are absolutely having a high spirit to study, and you will never get bored teaching them. Be creative because it's all you need.

Aaaaaand, after you read this, I hope you could be increasingly concerned about education.

Cheers.

More..
23 Juli 2013 0 comments

Going on Exchange with AIESEC!

Readers, pernah dengar organisasi bernama AIESEC? Mungkin diantara kalian masih banyak yang belum familiar dengan nama tersebut, untuk itu Admin ingin sharing mengenai apa itu AIESEC dan program-program menarik apa saja yang ditawarkan AIESEC sehingga kalian dapat mendapat pengalaman bekerja selama beberapa minggu di luar negeri! ;)

Sedikit gambaran mengenai AIESEC dapat dilihat dalam video di bawah ini.


Gimana, udah sedikit ngerti?

Kalau belum, Admin coba jelasin sedikit garis besarnya ya. Jadi, AIESEC itu adalah satu organisasi global yang bertujuan untuk mengembangkan potensi para generasi muda sehingga mereka lebih tanggap mengenai world issues seperti pendidikan, kesehatan, lingkungan alam, perkembangan teknologi, dll. AIESEC sendiri sudah tersebar di lebih dari 113 negara, dan di Indonesia sendiri ada 6 Local Committee (LC) dimana kalian bisa ikut berpartisipasi dengan mendaftar di LC tersebut. Lebih lanjut soal AIESEC Indonesia, kalian bisa klik di sini.

Nah, itu baru pembukaan soal AIESEC, sekarang Admin mau kasih penjelasan yang lebih dalam lagi mengenai program yang ditawarkan AIESEC.

Secara garis besar, AIESEC memiliki puluhan program (yang tidak bisa disebutkan satu persatu) dimana semua program tersebut pastinya bertema global (youth conference, discussing about recent global issues, etc.). Namun, ada satu program yang menarik ditawarkan AIESEC dimana kita bisa going on exchange, alias pergi ke luar negeri sambil belajar dan juga bekerja di project yang sudah kita pilih sendiri, program itu bernama GCDP (Global Community Development Programme). Jadi, selama kalian disana, kalian akan banyak memiliki pengalaman seputar dunia kerja secara global yang nantinya akan kalian gunakan sepulang kalian ke Indonesia. Dan satu lagi, kalian jangan takut kekurangan dana untuk pergi ke luar negeri, karena kalian bisa minta support dari AIESEC sendiri (untuk accommodation selama di luar negeri) dan berbagai pihak yang bekerjasama dengan AIESEC untuk menjadi supporter kalian, menarik kan? ;)

Banyak peluang kerja yang bisa kita ambil sesuai dengan minat kita, sebagai contoh di bidang education, kita bisa menjadi pengajar untuk unfortunate kids alias anak-anak yang kurang mampu di negara berkembang. Banyak hal yang bisa kita ajarkan kepada anak-anak tersebut sesuai dengan kemampuan kita dan kemauan anak-anak tersebut.

How to join?

Sebenarnya, banyak cara untuk mendaftar sebagai member AIESEC. Dulu, Admin kebetulan lihat stand AIESEC di lorong BKS Atma Jaya, dan setelah tanya-tanya sedikit, Admin disuruh menuliskan nama beserta alamat email Admin di form registrasinya, selanjutnya team AIESEC mengirimkan prosedur apa saja yang harus dilakukan agar bisa menjadi Exchange Participant alias turut berpartisipasi untuk bekerjasama dengan AIESEC di luar negeri. Tapi, sekarang simplenya, kalian bisa cek terus twitter AIESEC UI (admin pilih UI karena merupakan salah satu Local Committee terdekat) di sini, kalian bisa lihat update program apa saja yang dibuka and you are free to ask anything related to AIESEC program!

So, brace yourself for your life-changing experience, starting from..now! ;)

More..
30 Desember 2012 0 comments

Matematika Bukan Satu-satunya Parameter Kecerdasan

JAKARTA, KOMPAS.com - Kecerdasan anak tak bisa disamaratakan. Pada dasarnya, anak-anak memiliki kecerdasan yang unik sebagai cerminan dari minat dan bakatnya.

Pemerhati pendidikan anak Seto Mulyadi mengatakan, seringkali orangtua mengukur kecerdasan anak melalui mata pelajaran tertentu, misalnya anak yang kuat di mata pelajaran matematika dianggap cerdas, dan sebaliknya, stigma kurang cerdas kerap disematkan pada anak-anak yang rendah nilai matematikanya.

"Seolah-olah cerdas matematika di atas segalanya, padahal anak-anak memiliki kecerdasan di sisi lain. Sebagai musisi, pelukis, orator, atau apapun yang menjadi minat dan bakatnya," kata pria yang akrab disapa Kak Seto dalam sebuah seminar bertajuk "Menyikapi Kekerasan Pada Anak Usia Dini" yang digelar Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), di Ciputat, Jakarta Selatan, Sabtu (1/9/2012).

Cara belajar setiap anak, kata dia, juga berbeda-beda. Hal itu dipengaruhi oleh kemampuan setiap anak menyerap materi ajar yang disampaikan. Beberapa anak bisa belajar dengan "anteng", sedangkan lainnya bukan tak mungkin memerlukan suasana yang berbeda.

"Ada juga yang karena bergerak anak itu menjadi cerdas. Itulah kenapa banyak lahir sekolah alam," ujarnya.

Kak Seto menegaskan, memaksa anak untuk menguasai satu mata pelajaran atau bidang tertentu merupakan bentuk lain dalam kekerasan kepada anak. Sayangnya, masih banyak guru atau orangtua yang tidak menyadari hal tersebut.

"Memaksa anak yang cerdas bernyanyi untuk cerdas Matematika adalah kekerasan yang tidak kita sadari. Semua anak pada dasarnya cerdas. Menjadi sayang saat tak dihargai dan tak akan bisa cemerlang," tandasnya.

More..
06 September 2012 0 comments

Indonesia Mengajar

Upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan anak bangsa harus didukung bacaan yang berkualitas dan buku sebagai penunjang pendidikan. Maka, Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar, yang telah menerima 20.000 buku pelajaran dan nonpelajaran, akan membagikan buku tersebut ke sejumlah daerah di Indonesia.


Direktur Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar, Hikmat Hardono, menyatakan, buku-buku tersebut akan diserahkan kepada 120 sekolah dasar di 14 kabupaten dan 14 provinsi. "Diharapkan buku itu bisa sampai di tempat tujuan untuk dimanfaatkan oleh siswa," katanya di Jakarta, Jumat (16/12).

Beberapa sekolah yang akan mendapatkan buku itu antara lain terdapat di Kabupaten Aceh Utara, Kabupaten Lebak (Banten), Kapuas Hulu (Kalbar), Gresik (Jatim), Bima (Nusa Tenggara Barat), Kabupaten Rote Ndao (Nusa Tenggara Timur), Sangihe (Sulawesi Utara), Maluku Tenggara Barat (Maluku) dan Kabupaten Fakfak (Papua Barat).


Pengajar Muda


Selain pemberian sumbangan buku, kata Hikmat, melalui program tersebut, juga akan dikirimkan sejumlah guru (pengajar muda) ke kawasan-kawasan terpinggir di tanah air. Hikmat juga menyatakan, minat anak muda Indonesia untuk mengajar di daerah pelosok ternyata tergolong tinggi. "Hal itu bisa dilihat dari jumlah pendaftar yang mencapai ribuan orang," katanya.

Pada tahap pertama, jumlah pendaftar untuk program Indonesia Mengajar terdiri dari 1.380 orang, kemudian dilakukan seleksi, sebanyak 51 orang diterima. Pada kesempatan tahap kedua terdapat sebanyak 4.200 orang pendaftar dan mereka yang diterima sebanyak 72 orang.

Sedangkan pada tahap ketiga terdapat sebanyak 5.200 orang peminat di mana yang diterima sebanyak 47 orang. Pada tahap keempat yang mendaftar lebih dari 7.000 orang, tapi mereka yang diterima pada tahap keempat belum diumumkan. Rencananya, kata Hikmat, para tenaga pengajar muda tersebut akan ditempatkan di wilayah pelosok selama satu tahun untuk mengajar di sejumlah sekolah dasar.

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) PT Kapal Api Global, Ihsan Mulia Putri, menyatakan, buku itu merupakan buku yang diserahkan oleh produsen kopi kemasan itu. "Penyerahan 20.000 buku disampaikan untuk sejumlah sekolah di seluruh pelosok Tanah Air dengan program bernama, 'Secangkir Semangat Selangit Harapan," katanya.

Distribusi buku pelajaran itu dilaksanakan lewat kerja sama dengan Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar. Menurut Ihsan, pada awalnya pihaknya menargetkan untuk mendonasikan 10.000 buku. "Namun karena antusiasme masyarakat dalam mendukung gerakan tersebut, maka jumlah buku yang akan disumbangkan menjadi 20.000 yang bermanfaat untuk para siswa," katanya.

Dengan kepedulian dan pencapaian ini, kata Ihsan, merupakan bukti kuatnya semangat untuk memajukan Indonesia. "Dengan kepedulian kita semua untuk menuju Indonesia yang lebih maju," katanya. Program pembagian buku gratis itu dianggap bisa menjadi salah satu upaya mempersiapkan semua siswa dalam menghadapi standarisasi pendidikan di Indonesia. Pemerataan pendidikan selama ini baru sebatas pemerataan Ujian Nasional (UN) dengan situasi dan kondisi sekolah yang berbeda-beda. Hal itu di antaranya terkait dengan sarana penunjang pendidikan seperti buku pelajaran dan tenaga pengajar serta kelengkapan lainnya.


wartakota.co.id

More..
03 Januari 2012 0 comments

Pendidikan Bahasa Indonesia Perlu Dibenahi

Pengamat bahasa Indonesia dari Universitas Udayana, Prof Dr Aron Meko Mbete menilai, pendidikan bahasa Indonesia pada lingkungan pendidikan di sekolah sejauh ini masih perlu dibenahi.

"Para siswa lebih ditekankan pada kemampuan menghafal untuk tujuan kesiapan menghadapi ujian dan bukan pada kemampuan berkreasi," kata Prof Aron yang juga guru besar linguistik di Fakultas Sastra Unud itu, di Denpasar, Rabu (23/11).

Akibatnya, penguasaan bahasa pemersatu ini belum maksimal dikuasai oleh para generasi muda di Tanah Air.

"Cara penyampaian di jenjang pendidikan pun cenderung membosankan karena lebih condong untuk kepentingan mengejar target pencapaian nilai semata," ujarnya.

Akan menjadi lebih baik, katanya, jika dalam pelajaran diberi waktu dan ruang para peserta didik untuk berdiskusi, berdebat, dan kreasi dalam menulis serta membaca. "Dengan demikian pemikiran dan penalaran generasi muda pun akan berkembang dalam kebahasaan. Berkreasi sesungguhnya dapat pula dilakukan secara lingual kulturalisme melalui kebahasaan," ucapnya.

Dia pun meyakini, tidak sedikit pelajar maupun generasi muda yang jago berdebat tentang bahasa Indonesia, namun perhatian masyarakat dan dunia pendidikan terhadap bidang ini tampaknya masih jauh lebih kecil dibandingkan pada bidang ilmu pasti, teknologi, dan bahasa asing. Banyak anak-anak bangsa yang potensial, tetapi dibelenggu oleh sistem pendidikan yang mengejar formalitas.

Menurut Profesor Aron, kompetensi para guru juga mesti turut dibenahi agar jangan seperti selama ini, di mana pengetahuan kurang memadai dan terlalu sibuk dengan urusan administrasi. Ujung-ujungnya menjadi tidak intesif mendampingi pengembangan kebahasaan peserta didik.

Di sisi lain, Prof Aron juga mengkritisi penggunaan bahasa Indonesia pada media informasi yang seringkali mencampuradukkan istilah asing, padahal masih ada padanannya dalam bahasa Indonesia. "Kalau lebih banyak bahasa asing, bukan maksud menggerogoti atau menghambat perkembangan bahasa, bagi saya harus lebih dominan menggunakan bahasa baku yakni bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu," katanya. Menurut dia, bagaimanapun media sangat memengaruhi penggunaan bahasa dalam masyarakat.


http://www.wartakota.co.id

More..
0 comments

Anak dan Teknologi




“Waduh lucyu ni, kitaa bangett deh,” ucap pak Imran, suami bu Ellen, sambil menunjukkan gambar yang ada di Blackberry-nya yang melukiskan sebuah keluarga di mana ayah, ibu dan anak-anak duduk bersama-sama berdekatan dalam sebuah ruangan, namun masing-masing sibuk menggunakan benda teknologi.

Ayah sibuk dengan ipadnya, ibu asyik dengan Blackberry-nya, sedangkan sang kakak juga asyik dengan ponselnya dengan earphone di telinga dengan kepala sedikit miring mengikuti musik yang didengarkannya. Lalu adik sedang asyik main games sambil menggoyangkan kaki. Semua berkumpul, semua serius, semua berdekatan, namun semua asyik sendiri dengan dunia masing-masing.

Secara tidak disadari, gambaran di atas sering terjadi ada pada diri kita dan keluarga kita. Ungkapan pak Imran, suami bu Ellen, benar adanya. Walaupun bu Ellen menyanggah ucapan suaminya dengan mengatakan ”Akh terlalu berlebihan” kepada suaminya, namun dalam hati dia mengakui juga hal tersebut. Bahkan sekarang sudah dikenal slogan mengenai korban teknologi yang masuk dalam arena keluarga, yaitu “Mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.”

Apabila perangkat-perangkat lunak berteknologi tinggi seperti tablet, smart phone dan lain-lain yang mempunyai kecepatan dalam mengakses informasi atau social network seperti facebook dan twitter digunakan oleh sesama anggota keluarga, seharusnya dapat mendekatkan yang sudah dekat. Karena komunikasi yang terjalin seharusnya lebih lancar dan cepat.

Namun kenyataannya tidak demikian. Tidak sedikit anak dengan bandelnya diam-diam mendelete kontak ibu dan ayahnya, bahkan terkadang sang anak dapat memiliki dua acoount yang tidak diketahui oleh ayah atau ibunya.

“Rugi rasanya.” Begitulah ungkapan bu Ellen dalam hati karena anak yang seharusnya mahir menggunakan komputer dan pandai browsing jika mencari informasi yang dibutuhkan --dikarenakan sang anak telah mendapat pelajaran komputer yang lebih dari cukup di sekolahnya-- namun malahan begitu sudah kenal komputer dan dunia internet, yang dibrowsing oleh sang anak adalah games. Bahkan keluhan dari kawan-kawan bu Ellen yang sudah memiliki anak-anak remaja adalah browsing gambar-gambar porno.

Teknologi menyerang keluarga, tak hanya ayah dan ibu yang kena, anak-anak adalah mangsa yang paling empuk. Solusi yang diambil dengan menjauhkan anak dari teknologi juga tidak mungkin dilakukan di zaman informasi sekarang ini. Yang ada si anak akan menjadi benci dan diam-diam malah mengakses yang tidak-tidak, dan sebagai orangtua akan kewalahan untuk mengontrol dan membatasinya.

Maka jalan satu-satunya adalah dengan membuat suatu kesepakatan. Ketika anak dibelikan barang berteknologi tinggi, ada aturan main dan hal-hal apa saja yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh. Lalu dijelaskan mengapa begini mengapa begitu. Kemudian kesepakan itu ditandangani, dan bila ada yang melanggar, maka apa saja sanksinya perlu dipertegas.

Sebagai orang tua kita harus memberi mereka kepercayaan kepada anak-anak. Seringkali anak-anak tidak mampu memegang janji dan tidak mampu bertanggungjawab. Karena itu orangtua wajib untuk mengatur dan bersikap tegas. Sesekali dihukum dengan tidak diberi uang jajan dan tidak diperbolehkan menggunakan handphone atau computer (bahkan zaman sekarang anak-anak juga sudah menggunakan laptop).

Sekarang kembali pada kita sebagai orangtua, apakah kita maunya anak-anak menggunakan apa? Bila mereka diberi Blackberr, maka kita sebagai orang tua harus bekerjasama dengan pihak sekolah untuk melarang membawa Blackberry di sekolah dan harus disita jika kedapatan membawanya.

Sekolah yang disiplin biasanya melarang anak membawa handphone termasuk Blackberry ke sekolah karena menggangu pelajaran. Bila pun sangat terpaksa harus membawa handphone, maka handphone sang anak dapat dititipkan pada walikelas. Akh, zaman dulu juga kita sekolah tidak pakai handphone, nyaman dan aman saja kok.

Kembali pada anak dan teknologi, baik juga bila sekolah membuat acara technology camp, semacam acara menginap di sekolah dan memberikan training-training tentang kesadaran penggunaan teknologi disertai ikrar untuk menjadi pengguna teknologi yang bertanggungjawab. Di dalamnya terdapat janji tidak akan membuka akses pornografi, tidak lalai, lalu menggunakan internet untuk hal yang bermanfaat, serta pembatasan jam penggunaan teknologi secara bertanggungjawab dan lain lain.

Bila anak mampu melaksanakan janjinya dengan baik, maka orang tua maupun pihak sekolah bisa memberikan reward (hadiah) pada si anak. Teknologi bukan untuk dibenci, tapi untuk menjadikan kita lebih memahami.

republika.co.id

More..
02 Januari 2012 0 comments

The Girl Who Silenced The World

Servern Cullis-Suzuki

Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki seorang anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children's Organization ( ECO ).

ECO sendiri adalah Sebuah kelompok kecil anak" yg mendedikasikan diri Untuk belajar dan mengajarkan pada anak" lain mengenai masalah" lingkungan.

Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB tahun 1992, dimana pada saat itu Seveern yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin dunia terkemuka.

Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang" terkemuka yg berdiri dan memberikan Tepuk Tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Inilah Isi pidato tersebut: ( sumber The Collage Foundation )

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental Children Organization

Kami Adalah Kelompok dari kanada yg terdiri dari anak" berusia 12 dan 13 tahun. Yang mencoba membuat Perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000 mil. Untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, Hari ini Disini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi yg akan datang.

Saya berada disini mewakili anak" yg kelaparan di seluruh dunia yang tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang" yang sekarat yang tidak terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitat nya. kami tidak boleh tidak di dengar.

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubang nya lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan kimia apa yg dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun yang lalu kami menemukan bahwa ikan"nya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami mendengar bahwa binatang" dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap harinya - hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang" liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu". tetapi sekarang saya tidak tahu apakah hal" tersebut bahkan masih ada untuk dilihat oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah" kecil ini ketika anda sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahan nya. Saya hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahan nya tetapi saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan" salmon ke sungai asal na.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang" yang telah punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan Hutan-Hutan seperti sediakala di tempatnya yang sekarang hanya berupa padang pasir.
Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya.
TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah deligasi negara-negara anda. Pengusaha, Anggota perhimpunan, wartawan atau politisi - tetapi sebenernya anda adalah ayah dan ibu, saudara laki" dan saudara perempuan, paman dan bibi - dan anda semua adalah anak dari seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar, terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di planet yang sama - perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal tersebut.

Saya Hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di Negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan, kami membeli sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. walaupun begitu tetap saja negara" di utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan yang berkecukupan - kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu dengan anak" yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan kepada kami: " Aku berharap aku kaya , dan jika Aku kaya, Aku akan memberikan anak" jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal . dan Cinta dan Kasih sayang " .

Jika seorang anak yang berada dijalanan yang tidak memiliki apapun, bersedia untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak" tersebut berusia sama dengan saya , bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar. bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak" yang hidup di Favellas di Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia ; seorang korban perang timur tengah atau pengemis di India .

Saya hanyalah Seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua Uang yang dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemisikinan dan menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak anda mengajarkan kami untuk berbuat baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain.
Mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan.
Tidak menyakiti makhluk hidup lain, Berbagi dan tidak tamak.

Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarakan pada kami supaya tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri Konfrensi ini. mengapa anda melakukan hal ini - kami adalah anak" anda semua , Anda sekalianlah yang memutuskan dunia seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya dapat memberikan kenyamanan pada anak" mereka dengan mengatakan " Semuanya akan baik-baik saja ". 'kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan' dan ' ini bukanlah akhir dari segalanya'

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua?
Ayah saya selalu berkata ' kamu akan selalu dikenang karena perbuatan mu bukan oleh kata" mu '
Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. kalian orang dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami.
Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata" tersebut.
Sekian dan terima kasih atas perhatian nya.


Servern Cullis-Suzuki telah membungkam 1 ruang sidang Konfrensi PBB, membungkam seluruh Orang" penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya, setelah pidato nya selesai serempak seluruh Orang yang hadir diruang pidato tersebut berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun.

dan setelah itu ketua PBB mengatakan dalam pidato nya..

" Hari ini Saya merasa sangatlah Malu terhadap Diri saya sendiri karena saya baru saja disadarkan betapa penting na linkungan dan isi nya disekitar kita oleh Anak yang hanya berusia 12 tahun yang maju berdiri di mimbar ini tanpa selembar pun Naskah untuk berpidato, sedang kan saya maju membawa berlembar naskah yang telah dibuat oleh assisten saya kemarin Saya ... tidak kita semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun "
------------ --------- --------- --------- --------- ---------

Cerita ini benar" terjadi dan pidato severn Cullis-Suzuki itu benar" pidato yang dikatakan nya dalam pidato tersebut tanpa dilebih" kan .

Apa yang anda dapat dari cerita tersebut?
-Semoga terinspirasi-

Salam,

Smily





More..
18 Juni 2009 0 comments
html hit counter

powered by
Free Domain Name